Peningkatan SDM Kesehatan melalui Pendidikan Jarak Jauh (PJJ): Belajar dari Pengalaman Flores Timur

Sebagaimana diatur dalam UU 36 2014 tentang Tenaga Kesehatan bahwa jenjang minimum tenaga kesehatan, termasuk perawat dan bidan adalah setingkat Ahli Madya atau setara Diploma III. Namun kenyataannya hingga saat ini masih terdapat lebih dari 116.000 tenaga perawat dan bidan yang memberikan pelayanan kesehatan dengan ijasah setara Sekolah Menengah Atas dan Diploma I atau belum setara Diploma III.

Tantangan besar yang dihadapi Pemerintah Pusat dan Daerah (PEMDA) adalah bagaimana meningkatkan kualifikasi tenaga perawat dan bidan tanpa harus meninggalkan tempat tugas mereka di Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit maupun layanan kesehatan lainnya. Sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu, terutama bagi mereka yang bertugas di Daerah Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) serta Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK) seperti pelosok Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat dan Kalimantan Timur.

Pelaksanaan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) merupakan terobosan penting dari Kementerian Kesehatan untuk merespon isu diatas. Lahirnya program PJJ adalah bagian dari skema kerjasama Kementerian Kesehatan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur (Pemda Kab. Flotim) melalui Program Kemitraan Indonesia-Australia untuk Penguatan Sistem Kesehatan (AIPHSS) sejak tahun 2013.

PJJ images-BPPSDM.jpg-

Dengan dukungan Program AIPHSS, sejak pertengahan tahun 2013 PJJ telah di implementasikan dengan baik di Flores Timur (Flotim) dimana Pemda Flotim mendapatkan satu (1) kelas untuk peningkatan kualifikasi pendidikan ke jenjang DIII Keperawatan. Melalui PJJ ini, lulusan pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang kualifikasinya sederajat SMA dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan Diploma III Keperawatan, tanpa meninggalkan tugas sehari-hari. Pada angkatan pertama dididik 39 perawat yang mengikuti Program PJJ D3 Keperawatan.

Dalam implementasinya, program PPJ memeiliki sedikit perbedaan dengan model pembelajaran di Universitas Terbuka. Proses belajar mengajar dalam PJJ didesain oleh Politeknik Kesehatan Kemkes Kupang dengan dukungan Technical Assistance dari Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan, Kemenkes RI, Dirjen Pendidikan Tinggi dan Program AIPHSS dengan menggunakan pembelajaran terstruktur yang dilaksanakan dalam 8 (delapan) slot yang terbagi menjadi 8 kali tutorial online/tatap muka dan 8 kali pembelajaran mandiri, untuk setiap mata kuliah.

Proses pengembangan PJJ keperawatan ini bersamaan dengan proses pengembangan PJJ Kebidanan yang kemudian berlaku secara nasional, meliputi langkah/tahapan sebagai berikut:

  1. Pengembangan modul;
  2. Pengembangan Sistem Pembelajaran (design) oleh Poltekes Kupang sebagai technical assistance;
  3. Pengembangan content, struktur dan SDM penyelenggara;
  4. Monitoring dan Evaluasi

Dengan Program PJJ D3 Keperawatan, dan D3 Kebidanan ini, semua Daerah dapat menyusun Rencana Peningkatan Tenaga Perawat dan Bidan menjadi D3 Perawat dan D3 Bidan sehingga memenuhi persyaratan minimal Tenaga Kesehatan Indonesia, bekerja sama dengan Poltekkes Kemkes yang memperoleh ijin menyelenggarakan Program ini. Peningkatan dilakukan secara progresif, dalam waktu cepat, dimana para Perawat dan Bidan tersebut selama mengikuti pendidikan tetap dapat memberikan pelayanan. Sementara itu Program ini juga memberikan dampak sampingan, efek positif bagi tenaga Perawat dan Bidan yang ada, terbangunnya ruang diskusi di dalam internal Puskesmas atau RS antar sejawat untuk mendiskusikan apa yang sedang dipelajari dengan konteks riil pada layanan Puskesmas, termasuk mempelajari model belajar jarak jauh, serta pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran.

MEMASTIKAN KEBERLANJUTAN PJJ DI FLORES TIMUR

Beberapa langkah telah diambil Pemkab Flotim untuk memastikan keberlanjutan paska berakhirnya dukungan AIPHSS, yaitu :

  1. Mempercepat peningkatan tingkat pendidikan semua Perawat dan Bidan menjadi D3, dengan dukungan Pemda;
  2. Menyediakan Dana dalam APBD sebagai komplemen bagi biaya APBN yang disediakan oleh Pusat Diklat SDMK untuk menudukung Kelas D3, selama sisa waktu, setelah AIPHSS mendukung pembiayaan selama 4 semester;
  3. Menyediakan Dana dalam APBD Tahun 2016 sebesar Rp 834.524.900,- untuk membiayai secara penuh penyelenggaraan PJJ Kebidanan bagi 83 orang, dan tahun-tahun berikutnya sampai selesai seluruh Perawat dan Bidan menjadi D3;
  4. Meningkatkan koordinasi dengan Poltekkes Kemkes Kupang untuk menjaga kelancaran proses belajar mengajar, sekaligus menjaga kualitas lulusan.

Langkah-langkah ini dapat dirumuskan secara baik, dan kemudian dieksekusi dengan baik, sehingga ketika Program Kemitraan ini selesai tetap dapat dilanjutkan secara baik oleh Pemerintah Indonesia, baik Pusat maupun daerah; karena para pihak terkait di Pusat, Poltekkes Kupang, dan Pemda Flotim, serta Support Program AIPHSS melakukan koordinasi dengan baik, dalam tingkat kebijakan hingga tingkat operasional.

 

***

Photos source: BPPSDM and Tempo English